SEMARANG - Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah mencatat total nilai investasi asing selama 2016 mencapai USD1,03 miliar atau setara Rp13,7 triliun (estimasi kurs Rp13.345/USD). Nilai penanaman modal asing tersebut berasal dari 47 negara.

"Jumlah investasi tersebar pada 1.060 proyek. Dari investasi tersebut, Korea Selatan mendominasi penanaman modal di Jateng," ujar Kepala Badan Penanaman Modal Daerah, Prasetyo Aribowo, Kamis (2/2/2017).

Menurutnya, jumlah invetasi Korsel di provinsi ini mencapai 223 proyek, disusul Singapura sebanyak 135 proyek. Tekstil paling mendominasi sektor penanaman modal asing sebanyak 149 proyek. Selain itu, bidang lain adalah perdagangan sekitar 138 proyek.

"Sedangkan untuk penanaman modal dalam negeri mencapai Rp24 triliun dan tersebar di 35 kabupaten dan kota," kata Prasetyo.

Dari total investasi tersebut, lanjut dia, paling tinggi ada di Kabupaten Wonogiri. Daerah tersebut mencatatkan 301 proyek, disusul Kota Semarang sebanyak 93 proyek, Kebumen 58 proyek dan Karanganyar 47 proyek. "Cilacap masuk daftar lima terbesar dengan jumlah proyek sebanyak 17. Namun, dari sisi invetasi paling tinggi mencapai Rp12 triliun," terangnya.

Dia melanjutkan, masih banyak potensi penanaman modal dalam negeri yang belum tercatat. Misalnya hotel, apartemen, restoran, rumah sakit, sekolah dan cafe. Investasi tersebut belum dilaporkan berdasarkan format dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). "Pengajuan izin usaha hanya dilaporkan di tingkat kabupaten dan kota. Kedepan, kami akan melengkapi data investasi sesuai format BKPM," paparnya.

Prasetyo menilai dengan pencatatan lebih lengkap, sejatinya angka investasi di Jawa Tengah lebih besar dua kali lipat dari total yang ada sekarang. Karena itu pihaknya akan berkoordinasi dengan stakeholder lainnya untuk pencatatan lebih lengkap dan meningkatkan potensi investasi.

Pasalnya, sambung dia, potensi Jawa Tengah tidak kalah menarik dibandingkan Jawa Barat dan Jawa Timur. Meski angka investasi jauh berbeda, sejatinya ketiga daerah di Pulau Jawa ini memiliki keunggulan masing-masing untuk investasi.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Margo Yuwono mengungkapkan, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di Jateng memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan produksi nasional tahun 2016. "Hal ini terlihat dari meningkatnya pertumbuhan produksi nasional sebesar 4% dari tahun 2015," terangnya.

Menurut dia, andil terbesar kenaikan pertumbuhan produksi nasional ditopang dari kelompok industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Indonesia tahun 2016 pun meningkat 4,57% dibandingkan tahun 2015.

Sumber:
https://ekbis.sindonews.com/read/1176522/34/nilai-investasi-asing-di-jawa-tengah-rp137-triliun-1486041728